Dulu Mariani meminta biar kami tidak bertemu lagi. Aku memenuhi permintaannya walaupun dengan hati kecewa. Keputusannya terasa mendadak dan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mariani telah berubah drastis. Masih kuingat ketegaran hati Mariani dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini.
Ilustrsi gambar (pexels.com)
“Mas, mari kita akhiri semua ini. Kita tidak usah bertemu lagi. Saya dan mas sudah punya keluarga. Memang saya akui, kita mengalami nasib yang sama dalam menjalani hidup berumah tangga. Namun jikalau diteruskan juga pertemuan-pertemuan ini akan menciptakan situasi keluarga masing-masing menjadi lebih runyam.”
Aku terhenyak mendengar ucapan Mariani. Kupandangi wajahnya yang nampak masih muda dan cantik. Berusaha memahami kata-kata yang terlontar dari bibirnya yang mungil.
Ternyata Mariani memang serius. Serius dengan ucapannya untuk mengakhiri hubungan tersembunyi ini.
“Baik..baik Mariani.” Jawabku kemudian sambil mengangguk-angguk setuju.
“Terima kasih pengertianmu mas,”
“Ya. Tapi saya ingin tahu mengapa semua ini terjadi secara mendadak. Saya tidak menyangka pertemuan ini yaitu pertemuan kita yang terakhir, Mariani.” tukasku.
“Bukan mendadak mas. Saya yakin mas paham dengan maksud saya tadi,”
“Mariani akan meninggalkan saya?”
“Kalaupun benar tetapi masih ada istri dan lima anaknya mas Ryan yang menunggu di rumah. Saya juga masih ada tiga anak yang saya temui di rumah.”
Itulah pertemuan terakhir saya dan Mariani di sebuah Kafe sederhana.
Tapi sekarang…, sehabis sebulan berlalu, Mariani tiba-tiba mengajakku kembali untuk dapat ketemuan di kawasan ini lagi.
Dari tadi Mariani membisu saja. Mama tiga anak itu tidak berbicara apapun. Ia malah asyik mengaduk-aduk jus alpukat di gelas minumannya. Aku jadi galau dengan sikapnya.
“Ani, kenapa kau membisu saja?”
Mariani menundukkan wajah. Seakan tak berani menatap wajahku.
“Kalau kau diam, buat apa kau nelpon minta saya ketemuan lagi disini! Bukankah kau dulu sudah mengakhiri pertemuan ini?”
“Mas…” risikonya kata itu keluar dari bibirnya.
“Iya, saya masih disini. Masih di hadapanmu. Ada apa?”
“Bagaimana keluargamu, mas?” tanya Mariani masih menundukkan kepala.
“Tidak ada perubahan, masih menyerupai dulu,” sahutku tenang.
“Saya…saya…tidak dapat melupakan mas….” Mariani berkata tersendat-sendat. “Tapi apakah mas sudah melupakan saya?” sambung Mariani.
Aku tertawa kecil.
“Lho? Mas ngetawain saya?” Mariani menoleh sekilas.
“Enggak koq. Mana mungkin saya melupakanmu Mariani. Meskipun sebulan kemudian sudah melarang saya bertemu denganmu,”
“Benarkah itu, mas?” Mariani menatap dan memperhatikan keseriusanku.
Aku mengangguk.
“Mas, risikonya saya sadar. Saya sangat membutuhkan mas dalam menjalani hidup dan kehidupan saya meskipun mas Riyan mustahil saya miliki seutuhnya. Biarlah kehidupan kita ini berjalan apa adanya.”
“Ya, kau benar Mariani. Biarlah semua ini berjalan apa adanya hingga suatu ketika ada yang menghentikannya.” sambungku seraya menatap wajah manis mama beranak tiga itu.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar