Rabu, 01 Januari 2020

Pak Guru Wirman

 “Mana yang menyenangkan, jadi guru waktu dulu dibandingkan zamannow, pak?” Seorang murid bertanya tanpa mengacungkan tangan terlebih dulu sesuai hukum belajar. Pak Wirman, guru yang mengajar di kelas itu, tersenyum kecil menanggapinya. Tidak memprotes pertanyaan sang muridnya, yang nyata-nyata telah melenceng dari pokok pembahasan bahan pelajaran yang sedang dibahas.


 jadi guru waktu dulu dibandingkan zaman Pak Guru Wirman
Ilustrasi guru mengajar (pexels.com)

Memang, final menjelaskan bahan pelajaran, pak Wirman selalu memberi waktu dan kesempatan kepada murid untuk bertanya. Termasuk dikala menerangkan bahan penyusun beberapa zat padat, zat cair dan gas dalam SK/KD Partikel Penyusun Benda dan Makhluk Hidup.
Walaupun pertanyaan siswa wanita itu keluar topik pembahasan, guru paruh baya itu tidak ingin menciptakan kecewa si penanya. Apalagi pak Wirman sudah memahami abjad siswanya yang suka usil itu.
Pak Wirman berkeinginan dengan sikap ini, siswanya akan terbiasa bertanya dalam berguru dengannya.
“Coba terka, berdasarkan kau sendiri, mana yang menyenangkan, Yati?” Akhirnya pak Wirman balik bertanya.
“Hmmmm…, lezat mengajar di zaman dulu, pak…” Siswa pemilik pertanyaan, Yati, menjawab pertanyaannya sendiri. Ia duduk di kursi paling belakang ruang kelas.
“Begitu, ya?” tanggap pak Wirman, seakan-akan menyetujui tanggapan siswa berjulukan Yati.
“Iya…, pak…” sahut Yati dan siswa lainnya.
“Kalau boleh bapak tahu, coba kalian berikan alasannya?”
“Siswa zaman kini bandel-bandel, pak…” sahut Maria yang duduk di sebelah kiri depan ruang kelas.
Kembali guru IPA itu tersenyum kecil untuk yang kedua kalinya mendengar tanggapan siswa yang polos dan spontan. “Menurut bapak, lebih menyenangkan mengajar belum dewasa di zaman sekarang,” ujar pak Wirman kemudian tanpa menyalahkan tanggapan siswanya.
Pak Wirman menjelaskan alasannya  Siswa seisi kelas serius mendengar penjelasannya..Penjelasan pak Wirman sesuai pertanyaan siswa semula, contoh dan kemmpuan berpikir siswa-siswanya.
Sepintas pak Wirman melihat siswanya mendapatkan alasannya yaitu menyampaikan menyenangkan mengajar murid-murid di zaman sekarang.
Siswa zaman kini mungkin agak terkesan nakal dan kurang mengormati guru. Namun sanggup juga dipahami, mereka hidup dan sekolah di abad kemajuan teknologi terutama media informasi.Patokan makna menghormati guru, seakan-akan mereka buat sendiri sesuai gosip yang diterimanya.
Anak-anak zaman kini adakala suka menggandakan gosip dan tayangan yang mereka tonton.
Pada zaman dulu, gosip lebih banyak diberikan oleh guru di sekolah. Guru dianggap profesi yang serba tahu dengan segala sesuatu sehingga mereka lebih banyak mendengar gosip dari guru.  Siswa sadar sangat membutuhkan gosip sehingga mereka tidak sempat lagi menyampaikan sikap menyimpang.
“Bukan berarti siswa zaman dulu tidak ada yang nakal,” ujar pak Wirman mengalas penjelasannya.
Siswa nampak paham. Ada yang mengangguk-angguk membuktikan mereka paham dengan klarifikasi pak Wirman.
“Oke. Kita kembali ke bahan pelajaran yang sedang dibahas, setuju…?” tanya pak wirman meminta persetujuan siswanya.
“Setuju, pak…!!!” sahut siswa serempak.
Pak Wirman melanjutkan bahan pelajaran berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar