“Mas…, sanggup saya bicara sebentar?” Seorang wanita muda berkata pelan di balik beling loket pendaftaran, kepada Budiman yang sedang bertugas di ruang panitia penerimaan murid baru. Mulyani, wanita muda yang masih bagus itu juga salah seorang calon orangtua murid gres di sekolah itu. Sengaja Mulyani mengambil kesempatan mumpung di loket registrasi siswa gres sudah agak lengang.
Ilustrasi (pexels.com)
“Boleh buk, boleh banget…,” sahut Budiman dari dalam ruang panitia. Bagi Budiman, sosok Mulyani memang tidak gila lagi. Ia yakni bekas muridnya, belasan tahun silam.
Budiman agak kaget dipanggil dengan sebutan ’mas’. Namun perasaannya itu disembunyikan biar tidak tertangkap lembap oleh sobat panitia lainnya.
“Tapi tidak disini, mas Budi.” tukas Mulyani.
Budiman termangu sejenak. Ia agak risih untuk pergi dan meninggalkan loket penerimaan siswa gres alasannya yakni memang tugasnya belum selesai.
“Saya tahu, mas keberatan.” tebak Mulyani.
“Bukan begitu, Yani….”
“Ya, saya paham, mas Budi masih bertugas mendapatkan siswa baru. Tapi tidak bisakah mas meminta izin kepada mitra panitia dan atasan mas untuk pergi agak sejam atau dua jam saja?” potong Mulyani menangkap keraguan Budiman.
“Baik, Yani. Akan saya coba. Tapi bicaranya dimana?”
“Tidak jauh koq dari sini,”
Budiman mengangguk. Kemudian pamit pada sobat sesama panitia di ruang itu untuk bangun dan beranjak meninggalkan ruang penerimaan siswa baru. Seterusnya meminta izin kepada atasannya di ruang kepala sekolah.
Di erat gerbang keluar, Mulyani sudah menunggu. Budiman menyalakan motor dan berangkat membawa Mulyani meninggalkan gerbang sekolah.
“Kita bicara dimana, Yani?” tanya pak Budiman.
“Ke kantin yang dulu pernah kita kunjungi, mas….” sahut Mulyani di belakang.
Derrrr…!!! Darah Budiman berdesir kencang. Tangannya seakan tidak berpengaruh untuk memegang dan mengendalikan setang motor. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan dikatakan Mulyani dan yang lebih penting lagi apa yang akan terjadi sehabis ini.
Namun Budiman berusaha untuk mengendalikan diri dan motor yang dikendarainya.
“Mas, saya harap anak saya satu-satunya, Miranti, sanggup diterima menjadi siswa gres di sekolah daerah mas mengajar.,” ujar Mulyani dengan bunyi pelan di seberang meja.
Budiman menatap Mulyani mencoba memahami arah ucapan Mulyani.
“Kalau saya lihat tadi, jumlah nilai MIranti bagus dan kemungkinannya besar untuk diterima,” sahut Budiman. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, bila hanya memberikan ucapan itu kenapa harus ke kantin ini?
“Iya, iya mas guru…” ujar Mulyani mengangguk-angguk.
“Lalu masalahnya apa, Yani?” tanya Budiman tak sanggup menutupi rasa penasarannya.
Mulyani menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya. Begitu pula Budiman. Tenggorokannya terasa kering, jantungnya semakin bergoncang tidak normal menunggu apa yang akan disampaikan Mulyani.
“Mas…, ketika berhadapan dan menanyai Miranti tadi, apakah mas tidak melihat sesuatu yang lain pada diri gadis kecil saya itu?” tanya Mulyani semakin membingungkan Budiman.
“Maksudmu?”
“Apakah mas tidak melihat dan mencicipi sesuatu, bila pada diri Miranti ada padamu, mas?” kata Mulyani semakin serius.
Budiman terhenyak.
Tiba-tiba ia ingat mana kala tadi dikala mencatat data calon siswa berjulukan Miranti. Budiman kembali mengingat Miranti.
Kini Budiman sadar, tadi ketika melihat wajah Miranti, Budiman melihat sesuatu yang unik. Ya, mata dan hidung Miranti rasa-rasa seolah-olah dengan mata dan hidung miliknya sendiri.
“Mas, jujurlah mas…” desak Mulyani.
“Saya memang melihat sesuatu yang terasa unik pada Miranti. Mata dan hidugnya terasa ada kemiripan dengan mata dan hidung saya, Yani…”
“Tentu saja, mas. Gadis mungil dan bagus itu…," Mulyani memintas namun kalimatnya tergantung.
“Anak saya, maksudmu?
“Iya, mas…”
“Tapi bukankah kau telah menikah dengan orang lain dan berarti anak itu bukan anak saya, Yani?”
“Supaya mas, tahu. Setelah insiden itu…, saya pergi jauh ke kota lain. Belum hingga sebulan saya bertemu dengan seorang pria dan bersedia menikahi saya.
Dengan terpaksa saya membohongi status saya kepada calon suami saya itu. Dia sudah berjanji untuk mendapatkan saya apa adanya….” ujar Mulyani degan bunyi mulai serak. Buliran bening terbit dan meleleh di pipinya yang masih mulus.
Budiman tersentuh haru.
“Setelah Miranti lahir, suami saya meninggalkan kami begitu saja. Saya tidak sanggup berbuat apa. Saya mengira suami saya tahu bila anak yang saya lahirkan itu bukan anaknya.
Sejak itu saya takut mudik dan berusaha untuk tetap bertahan hidup di kota itu. Untung uang pinjaman suami saya tabung dan dengan uang itu saya sanggup menutupi kebutuhan saya dan Miranti-sehari-hari.
Ketika sudah merasa berpengaruh untuk bekerja, saya bekerja di sebuah supermarket. Ketika bekerja Miranti saya titip pada seorang wanita yang tidak mempunyai anak.
Ketika Miranti sudah tamat SD kemarin, gres saya berani pulang dan berencana menyekolahkan Miranti di daerah mas mengajar.…”
Budiman menghela nafas panjang.
Ada rasa hiba dan kasihan sekaligus bersalah tersemburat di lubuk hati Budiman yang paling dalam.
Ia merasa bertanggungjawab atas semua insiden yang dialami Mulyani dan Miranti selama di perantauan. Namun disi lain Budiman merasa mustahil berbuat sesuatu kepada Mulyani untuk dikala ini.
“Tak usah cemas atas diri saya dan Miranti dikala ini, mas. Waktu itu, saya tahu bila mas sudah beristri. Seperti itu pula dikala ini.” sambung Mulyani menyusut air bening di pipinya.
Mulyani menatap Budiman dengan lembut. Lalu ia berkata,
“Mas, sekarang, saya tidak akan banyak menuntut kepada mas. Nanti tolong mas jaga Miranti di sekolah meskipun itu mas lakukan hanya sembunyi-sembunyi atau dari jauh. Hanya itu seruan saya,….” ujar Mulyani tersenyum namun matanya kembali berkaca-kaca.
“Apakah Miranti tahu semua ini?”
“Tidak mas. Saya masih merahasiakannya. Dari dulu saya berusaha biar nama baik mas tidak tercemar. Saya sadar mas, sebagai murid saya yang telah memulai cerita ini duluan sehingga melibatkan diri mas sendiri.
”Baiklah Yani…. Saya akan memenuhi permintaanmu. Tapi seandainya tanpa kau minta pun saya akan melakukannya alasannya yakni kini saya telah mengetahui siapa Miranti,”
“Terima kasih, mas..”
“Iya.Tapi…, saya harap, tidak ada seorang pun yang tahu tetang Miranti sebenarnya, Yani.”
“Saya paham, mas…”
Budiman memandang wajah Mulyani lekat-lekat. Mereka bertatapan penuh makna, begitu lama.
“Oh…, iya… mas, silahkan mas duluan ke daerah kiprah mas. Saya tunggu Miranti disini. Miranti sanggup mengendarai motor,” ujar Mulyani ketika tersadar dalam buaian mimpi masa lalu.
Budiman mengangguk seraya tersenyum, penuh arti. Kemudian menghilang bersama motornya di tikungan .***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar